Posted by : Kuronymous Thursday, October 18, 2012


Pembentukan Kata Dan Istilah
1.1 Kata dan Istilah

Pemakaian kata dan istilah secara tepat diperlukan dalam penulisan karangan ilmiah. Kata yang digunakan bermakna tunggal dan denotatif. Hal ini ditempuh untuk menghindari timbulnya berbagai penafsiran terhadap gagasan yang dikemukakan dalam kalimat. Demikian pula dengan penggunaan kata yang bermakna denotatif.
Sebagaimana telah dijelaskan beberapa kata dalam bahasa Indonesia bermakna makna ganda dan tidak denotatif, seperti kata amplop pada pembahasan sebelumnya. Kata bunga pada kalimat di bawah ini menggambarkan hal itu.

Dia adalah bunga desa di kampungnya.

Bunga pada kalimat di atas tidak mengacu pada bunga yang sesungguhnya. Tentu dalam karangan ilmiah hal ini sebaiknya dihindari.
Istilah dipahami sebagai kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Kata ialah unsur bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata dan istilah memiliki kemiripan sebagai berikut.

1. Istilah itu adalah kata, baik berupa kata dasar, kata turunan, kata ulang, maupun gabungan kata.

2. Tidak semua kata merupakan istilah. Kata yang tidak termasuk istilah adalah kata yang tidak mengandung konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.

3. Jadi, istilah pasti merupakan kata, tetapi kata belum tentu merupakan istilah.

Ketetapan penggunaan kata dan istilah dalam kalimat bergantung pula pada pemahaman penulisnya terhadap makna kata atau istilah yang digunakannya. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang memiliki kemiripan bentuk yang memerlukan kecermatan dalam pemakaiannya, seperti istilah perputaran dan pemutaran, serta permukiman dan pemukiman. Misalnya orang sering salah menggunakan kata pemukiman, seperti pada “Selamat datang di pemukiman ideal”. Sekilas kata ungkapan itu tidak ada yang salah. Akan tetapi, jika kita menelusuri maknanya, penggunaan kata tersebut tidaklah tepat. Kata pemukiman berbeda maknanya dengan permukiman meskipun keduanya sama berasal dari kata mukim. Namun, pada perkembangan selanjutnya kata permukiman ada kaitan dengan kata kerja bermukim, sedangkan pemukiman berkaitan dengan kata kerja memukimkan. Bermukim bermakna „diam, tinggal‟, sedangkan memukimkan bermakna „menempatkan‟. Dengan demikian, untuk ungkapan tersebut adalah “Selamat datang di permukiman ideal”.       

1.2 Pembentukan Istilah Baru

Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia berpengaruh juga pada perkembangan perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia, khususna istilah. Istilah-istilah baru banyak yang muncul diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Penyerapan tersebut, terutama kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing dapat dilakukan dengan tiga upaya.
Pertama, apabila mempunyai sifat-sifat yang sama dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia, istilah itu dipungut tanpa mengalami perubahan, misalnya radio (radio). Kedua, apabila kata asing tersebut memiliki sifat yang mirip dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia, untuk penulisan kata asing tersebut dilakukan penyesuaian, misalnya sistem (system). Ketiga, apabila kata asing tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan ejaan bahasa Indonesia, untuk penulisan istilah tersebut dilakukan penerjemahan dengan mempertimbangkan kesamaan konsep pada bahasa sumber dan bahasa sasaran serta struktur morfologi dalam bahasa sumber dan dalam bahasa Indonesia, misalnya subbagian (subdivision).

1.3  Aspek Bentuk Kata pada Pembentukan Istilah

Dalam pembentukan istilah dipertimbangkan pula bentuk kata karena istilah itu dapat berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, dan gabungan kata. Dengan demikian, penulisan istilah tersebut harus sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia.
Dalam kenyataannya sering muncul masalah pembentukan istilah yang berupa kata berimbuhan. Misalnya, pada penggabungan kata dasar dengan awalan terjadi proses morfofonemik. Proses morfofonemik dipahami sebagai proses perubahan bentuk fonem pada awal kata akibat penggabungan dua morfem. Perubahan bentuk fonem ini tidak berakibat pada perubahan makna. Anggota satu morfem yang wujudnya berbeda ini, tetapi memiliki fungsi dan makna yang sama disebut alomorf. Misalnya, seperti kata menterjemahkan yang pernah dibahas pada materi sebelumnya. Demikian pula dengan kata yang memiliki satu silabe, sering kata-kata tersebut diucapkan atau ditulis secara salah, seperti kata bom, sah, tes diucapkan membom, mensahkan, dan mentes. Padahal, kaidah yang benar dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, kata yang memiliki satu silabe pada saat dibentuk menjadi kata kerja aktif haruslah mendapat awalan menge- sehingga bentuk yang benar dari kata-kata tersebut adalah mengebom, mengesahkan, dan mengetes.
Demikian pula dengan kata yang mendapat imbuhan berupa awalan dan akhiran. Misalnya, kata tunjuk pada saat mendapat awalan dan akhiran meN-kan dan pe-an, sebagian orang salah menuliskannya, yaitu menunjukan dan penunjukkan. Penulisan menunjukan dengan satu /k/ jelaslah tidak tepat karena kata itu berasal dari kata dasar tunjuk dan imbuhan meN-kan. Dengan demikian, penulisan kata tersebut dengan dua /k/, yaitu menunjukkan. Sebaliknya, kata penunjukkan dengan dua /k/, jelas pula salah karena kata tersebut berasal dari kata dasar tunjuk dan imbuhan pe-an. Jadi, penulisan yang benar kata tersebut adalah dengan satu /k/, yaitu penunjukan. Hal-hal kecil seperti ini bagi sebagian masyarakat tidak merupakan yang penting.
Akan tetapi, bagi kecermatan berbahasa dan keruntutan berpikir jelaslah hal seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja, tanpa kecuali siapapun orangnya.


Untuk Download makalah ini dalam bentuk MS. Word silahkan Klik gambar di bawah ini


{ 1 comments... read them below or add one }

Setelah Melihat Artikelnya, Luangkan Sedikit Waktu anda Untuk Memberi Komentar,,,,
"JANGAN JADI PEMBACA BISU"

Copyright © gado2.co.vu -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan